Diana Pramanik
17948
portfolio_page-template-default,single,single-portfolio_page,postid-17948,theme-bridge,bridge-core-1.0.6,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-theme-ver-18.2,qode-theme-bridge,qode_advanced_footer_responsive_1000,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive

__Diana Pramanik’s Ecoprints__

 

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan kerajinan kain dengan berbagai teknik dan corak. Sebut saja tenun dengan beragam jenisnya, misalnya tenun Biboki, tenun Ulos, tenun Toraja, tenun Ikat Troso, tenun Dayak, dan sebagainya. Kemudian kita memiliki batik, baik tulis maupun cetak, dimana dari bentang timur ke barat Indonesia, masing-masing daerah memiliki langgam, corak, dan motif batik yang khas. Sebut saja Minangkabau, Parang Rusak, Megamendung Cirebon, Tujuh Rupa – Pekalongan, Priyangan Tasikmalaya, Lasem, Bali, Pring Sedapur Magetan, Gambang Kromong Betawi, dll.
Saat ini, seni dan kerajinan melukis permukaan kain semakin berkembang. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan lingkungan, metode dan bahan-bahan yang digunakanpun  ramah lingkungan. Seni menghias permukaan kain yang sedang hangat diminati diantara para penggiat seni kain Indonesia saat ini adalah teknik ecoprint atau ecoprinting.
Ecoprinting dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya adalah melalui proses transfer/cetak untuk mendapatkan jejak alami tetumbuhan, seperti daun, bunga, biji, akar dan ranting pada media tertentu (kain, kulit, kertas, atau bahkan  keramik).
Peminat teknik ini tidak hanya merebak di Indonesia, namun juga di manca negara. Dengan memanfaatkan unsur alami (tumbuhan/tanaman), teknik ini telah mampu memberikan corak dan warna yang digemari di dunia seni/kerajinan kain.
Adalah Diana Pramanik, salah satu penggiat ecoprint yang telah menghasilkan berbagai karya cantik. Untuk menghasilkan karyanya, Diana menggunakan berbagai bahan alami, antara lain daun jati, daun mangga, daun kayu putih, kunyit, dan sebagainya. Bahan-bahan alami tersebut menghasilkan pigmen dan serat yang apabila diproses akan menghasilkan motif dan warna yang khas.
Pada kesempatan ini, KulturRa.Net mendapat privillage untuk mengintip studio atau “dapur kreasi”nya. Tak tanggung-tanggung, dia juga membagikan ilmunya, dengan mengulas proses kreatif dan bahan-bahan yang dipakai. Dan ya! KulturRa.net cukup beruntung dapat menghadirkan beberapa karyanya di portfolio kami.

&nbsp

“Media apa saja yg digunakan dalam proses ecoprinting?”
Bahan utama yaitu  kain yg berasal dari bahan baku alam seperti katun dan sutra. Selain itu, kulit (kambing/sapi),  kertas dan keramik juga dapat digunakan sebagai media.

&nbsp

“Bagaimana penjelasan tentang pewarna alami?”
Pewarnaan pada kain ecoprint menggunakan zat warna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, antara lain batang, kulit kayu, daun, bunga akar, bahkan biji tanaman. Bahan tersebut menghasilkan berbagai pigmen/ warna setelah melalui proses ekstraksi. Beberapa tanaman yang apat dipakai antara lain daun nila, kulit pohon soga tingi, kayu tegeran, kunyit, tanaman teh, akar mengkudu, daun jambu biji, bawang merah, dll.
Kita dapat memperoleh bahan-bahan tersebut dari alam sesuai bentuk aslinya (batang, akar, daun, bunga, dll) untuk kemudian kita ekstraksi menjadi cairan. Bagi yang tidak memiliki banyak waktu untuk memproses sendiri, di pasaran juga tersedia ekstrak zat warna alami dari tumbuhan yang siap pakai.
Hampir semua jenis daun dapat dipakai untuk ecoprint. Namun sebagian daun dapat memunculkan warna kuat (positif) dan lainnya memuncuklan warna samar, bahkan negatif. Hal ini ditandai hasilnya yang muncul sebagai warna putih tanpa jejak serat daun yang kuat, Agar pigmen dan serat daun yang diinginkan tercetak dengan baik, perlu dilakukan treatment tertentu terhadap daun-daun tersebut.

&nbsp

“Bagaimana proses pembuatan kain ecoprint?”
Proses utama dalam pembuatan ecoprint yaitu: treatment kain/ media; persiapan pewarna alami (kali ini menggunakan dedaunan); dan pengikatan dan penguncian jejak alam pada kain.

&nbsp

1. Treatment kain
Pertama-tama kain mengalami proses mordan, untuk meluruhkan kanji dan bahan lain yang dapat menghalangi proses penyerapan warna.
Bahan yang biasa digunakan  adalah campuran tawas dengan air atau campuran soda ash dengan air.  Prosesnya dapat dilakukan dengan cara panas atau dingin.
Kain yang sudah dimordan dicelupkan ke dalam larutan zat warna lalu direndam beberapa saat sampai diperoleh tingkat warna yang diinginkan. Tiriskan kain sebelum dipakai pada langkah  selanjutnya.

&nbsp

2. Treatment bahan pewarna alami.
Rendam bahan/ dedaunan yang dipilih ke dalam cuka dapur yang dilarutkan dengan air. Durasi perendaman tergantung jeni sjaun. Daun yang lembut/ mudah rusak cukup direndam 15 menit, sedangkan daun yang keras dapat membutuhkan waktu perendaman sampai 24 jam. Tiriskan dan lap daun untuk mengurangi air yang berlebihan pada daun.Siapkan plastik (bekas) selebar kain yang akan diproses. Lakukan penataan daun sesuai selera/ desain.di atas kain. Tutupi daun dengan kain lain atau bagian kain yang sama dengan rapi, agar tidak berubah posisinya. Cara ini disebut dengan teknik mirroring.
Bila ingin menggunakan dua lembar kain, pada salah satu lembar kain penutup dapat dilakukan perwarnaan dengan zat alami terlebih dahulu. Cara ini dikenal dengan nama botanical blanket.
Lalu lipat/gulung kain bersama plastik (bekas) sampai rapi, dan disesuaikan ukuran tempat pengukus. Pengukusan dilakukan sekitar 2 jam. Setelah itu, angkat dedaunan dan angina-anginkan kain, biarkan hingga mengering. Hindarkan menjemur kain di bawah sinar matahari secara langsung.

&nbsp

3. Pengikatan dan Penguratan Jejak/ Serat
Untuk mempertahankan agar warna alami tidak mudah hilang atau luntur, maka dilakukan proses fiksasi. Bahan yang digunakan adalah tawas, kapur, dan tunjung. Tawas bersifat memunculkan warna asli (netral). Kapur memperkuat warna kea rah lebih kuning, sedangkan tunjung akan menjadikan warna asli menjadi lebih tua/ pekat/ gelap.

&nbsp

“Apa yang menarik dari seni/kerajinan kain ecoprint ini?”
Hasil ecoprint tidak akan sama atau selalu memberi kejutan yang berbeda, meskipun media, pewarna alami, dan mordan yang dipergunakan sama. Jadi, kita dapat berpetualang dengan perpaduan berbagai jenis tanaman dan kombinasi bermacam-macam teknik, untuk menghasilkan warna, corak/ motif dan style yang beraneka ragam.
Selain itu, bahan-bahan pewarna alami yang diperlukan sangat mudah didapat, bahkan mungkin tersedia di sekitar pekarangan kita. Pewarna yang alami tentu saja menjadi nilai lebih karena limbah cairnya tidak menimbulkan pencemaran yang berbahaya sebagaimana pewarna kimia.

&nbsp

&nbsp

Nantikan perpaduan karya-karya Diana dan kulturRa.net di portfolio kami !!
1
Hi there, need help?
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram