CUBISM : Bold, Rebell, Indifferent
16004
post-template-default,single,single-post,postid-16004,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.6,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-theme-ver-18.2,qode-theme-bridge,qode_advanced_footer_responsive_1000,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive

CUBISM : Bold, Rebell, Indifferent

Cubism (kubisme) adalah salah satu pendekatan yang revolusioner (yang dipopulerkan sekitar tahun 1907-08) dalam karya seni lukis. Adalah Pablo Picasso dan Georges Braque, salah satu tokoh yang mengawali untuk mencipta dan ‘bereksperimen’ dengan teknik ini. Mereka mengawinkan beberapa bentuk geometri dasar, seperti persegi, silinder, bola, kubus, dan kerucut dan menuangkannya menjadi objek yang terlihat terpecah atau terfragmentasi dan abstrak.
Dengan menekankan kerataan dua dimensi, Pablo dan Braque seperti mengesampingkan ilusi ‘depth’ atau kedalaman.  Mereka mendobrak pakem atau tradisi ‘European style’ yang mendominasi seni lukis sejak era Renaissance, dimana ilusi ruang nyata dan linear perspective menjadi hal yang wajib.
Style ini membuka ruang kemungkinan baru yang sangat luas bagi dunia seni rupa, terutama dalam penyampaian aspirasi realitas visual. Kubisme  menjadi ilham bagi lahirnya berbagai seni abstrak, antara lain aliran konstruktivisme dan neo-plastisisme.
Ilham di Balik Kubisme Picasso
Pablo Picasso memiliki beberapa topeng dari Afrika dan Oceania non-naturalistik di Studionya. Dia mengagumi vitalitas dan di saat yang sama tertarik akan ‘kebrutalan’ yang dihadirkan oleh topeng tersebut. Menurutnya, karya tersebut seperti menghadirkan citra manusia yang hidup. Spirit vitalitas dan kebrutalan sepertinya juga tercermin dalam selebrasi kubismenya.
Lihat saja bagaimana Pablo menghadirkan objek dalam Les Demoiselles D’Avignon (1907) secara provokatif (Avignon Street di Barcelona – kota asal Pablo Picasso – terkenal akan rumah bordil). Sejarawan seni menyebutkan bahwa pahatan Paul Gaughin yang bergaya primitivsm, Oviri (patung dewa Tahiti), sedikit banyak juga memberi pengaruh pada Les Demoiselles D’Avignon.

Les Demoiselles D’Avignon (1907) by Pablo Picasso

Perkembangan Cubism
Picasso dan Braque memainkan konsep kubisme dengan menghadirkan elemen-elemen yang tidak terduga ke dalam lukisan mereka, seperti not musik, alat musik, dan potongan kata. Terkadang mereka mengaplikasikan pasir ke lukisan basah, untuk memberikan tekstur. Pada awal perkembangan kubisme, Picasso dan Braque lebih cenderung memilih tone “greyish” pada karya  mereka. 

Violin and Pallete (1909)
Georges Braque

“Woman with Guitar” (1913)
By Georges Braque

Selanjutnya, salah satu karya “cubist” Picasso yang terkenal adalah Guernica, dimana karya tersebut diyakini sebagai bentuk political stratement. Lukisan tersebut berukuran tinggi 3,5 meter dan lebar 7,8 meter (seperti mural dengan media kanvas). Guernica dilukis sebagai reaksi Picasso atas pemboman yang dilakukan oleh Nazi pada  kota Basque pada era Spanish Civil War. Guernica mendeskripsikan tragedi dan penderitaan yang ditimbulkan oleh perang, terutama pada warga sipil. Guernica menjadi simbol anti-perang dan mendapat pengakuan yang luas dari kritikus maupun penikmat seni. Karya ini dapat dilihat di Museo Reina Sofia, Madrid.

Guernica (1937)
by Pablo Picasso

Saat ini, pengaruh kubisme tidak hanya terbatas pada seni lukis kontemporer, namun juga menggema ke berbagai ranah karya, mulai dari karya seni 3 dimensi, arsitektur dan tren desain interior modern, sampai industri fashion.
So, apakah kamu tertarik mencoba bereksperimen dengan cubism?

Reference:

Thomas J. Craughwell.2012.30,000 Years of Art: Black Dog & Leventhal Publishers, Inc;

https://www.tate.org.uk/art/art-terms/c/cubism

https://www.pablopicasso.org

http://www.georgesbraque.org



1
Hi there, need help?
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram